) ke kertas. Lebih dari itu, penggunaan
mulai merambah ke beragam lini, sebut saja sebagai juru cetak foto atau mesin fotokopi yang mampu menggandakan beragam jenis dokumen.
yang notabene banyak diandalkan pengguna kantoran untuk melakukan produksi dokumen sehari-hari. Bahkan dibeberapa perusahaan, dokumen dianggap sebagai ujung tombak dalam pengembangan bisnis. Jadi, tidak usah heran jika saat ini banyak perusahaan yang mulai pandai mendandani dokumen mereka agar bisa memenangkan tender atau menjaga citra perusahaan.
Sejarah Awal Printer Laser
Jika anda jalan-jalan dan melihat sebuah toko, coba perhatikan papan jasa yang mereka pampang! Apabila terlihat kata "
Xerox Copy Service", maka bisa dipastikan tempat ini menyediakan jasa fotokopi dokumen lengkap dengan perniknya. Merek
Xerox memang lekat dengan sesuatu yang berhubungan dengan fotokopi.
Maklum saja, perusahaan yang dibangun sejak tahun 1906 di Amerika ini, memang memfokuskan bisnisnya dibidang penggandaan dokumen. Namun sejak
Gary Starkweather, salah seorang peneliti di
Xerox, mengubah sistem pengkopi dokumen ini menjadi
printer laser, bisnis
Xerox mulai meledak sebagai penguasa pasar
printer di 70-an.

Pengguna
printer laser sejak pertama kali diperkenalkan terus berkembang, begitupun dengan teknologinya. Ramainya pasar ini membuat salah satu pemain perangkat
printer laser,
Minolta, mulai berpikir untuk ikut memproduksi
printer laser. Tahun 1993, hadirlah produk
Minolata ColorScript Laser 1000, yang bisa memproduksi dokumen berwarna dan dipasarkan dengan harga US$12,499.
Barulah dipertengahan tahun 1995,
Apple Computer mulai mengikuti jejak
Minolta dalam memproduksi
printer laser berwarna dengan menghadirkan
Apple Laser Writer 12/600PS yang mampu mencetak dengan resolusi maksimum
600x600 dpi dan berbekal
memori internal sebesar 2MB. Harga
printer Apple ini juga dijual dengan harga yang lebih murah (
US$7,000) dibandingkan dengan printer buatan
Minolta.
Bagaimana Printer Laser Warna Bekerja?
Teknologi yang dibenamkan dibalik
printer (
inkjet dan laser) selalu menarik untuk diikuti. Jika
printer inkjet yang banyak dipakai dirumah dan dikantor kecil dibangun dari teknologi cairan, berbeda dengan
printer laser yang menggunakan media tinta berupa bubuk, atau yang biasa dikenal dengan
toner. Tidak peduli apakah sebuah
printer laser memiliki fasilitas warna atau tidak, pada prinsipnya kedua perangkat ini memiliki cara kerja yang sama, yaitu dengan memanfaatkan listrik statis.
Inilah alasan utama mengapa
printer laser harus menggunakan
toner sebagai media tintanya. Minimal ada 6 komponen kunci yang dibutuhkan sebuah
printer laser agar bisa bekerja, yaitu drum peka cahaya,
fuser, lampu penetral,
corona, unit laser, dan
toner.
Saat informasi dikirimkan dari PC (
komputer),
printer mengubahnya menjadi data khusus yang siap ditulis oleh unit laser ke permukaan drum peka cahaya. Muatan di permukaan drum yang tercahayai laser akan berubah dari elektron positif ke elektron negatif.

Selanjutnya, drum akan berputar melewati bak
toner dan menarik
toner (muatan positif) sesuai pola yang ditulis oleh laser tadi. Saat melewati kertas dengan muatan negatif yang lebih kuat,
toner yang semula berada di drum peka cahaya akan berpindah lagi ke permukaan kertas. Sisa muatan negatif pada drum peka elektron akan langsung dinetralkan oleh lampu penetral (
corona) dan siap untuk ditulisi data berikutnya. Demikian seterusnya, sampai semua data tercetak dikertas.
Bubuk
toner yang menempel di permukaan kertas dilelehkan oleh
fuser dengan suhu tinggi agar menyatu dengan serat kertas. Sehingga tidak mengherankan jika semua dokumen yang baru saja tercetak dari
printer laser akan terasa panas jika disentuh. Konsep kerja serupa juga berlaku di
printer laser warna.
Cuma, jenis
printer laser yang ini memiliki sejumlah drum peka cahaya, unit laser, lampu penetral,
corona, dan
toner lebih dari 1 buah, tergantung pada banyaknya warna yang didukung oleh
printer tersebut. Susah juga ya buat
printer laser warna? Hehehe...